oleh

Tim Medis IKOPIN Bukan Perusuh

BANDUNG, realitapublik.com,— Mahasiswa IKOPIN berkomitmen akan terus menyuarakan kebebasan berpendapat yang dilindungi konstitusi. Hal itu ditegaskan Eko Setiawan selaku Presiden Mahasiswa IKOPIN, Selasa (13/10/2020).

Pihaknya juga mengutuk tindakan brutal aparat kepolisian dalam aksi menolak UU Omnibus Law. “Polisi seharusnya menjadi pengayom masyarakat dan bukan benteng kekuasaan yang menindas,” ungkapnya menyayangkan.

Pasalnya, sebanyak 14 orang mahasiswa sebagai tim medis IKOPIN ditangkap kepolisian dan disebut sebagai perusuh dalam aksi massa menolak UU Omnibus Law (Cipta Kerja), pada Tanggal 7 Oktober 2020 lalu.

Baca Juga  Penangkapan Aktivis Indikasi Mengkhianati Reformasi

Dalam kesempatan ini, pihaknya juga bermaksud memberikan dan menjelaskan fakta peristiwa yang terjadi yang dilakukan mahasiswa IKOPIN selama aksi massa menolak UU Omnibus Law pada hari Rabu (7/10/2020).

Dijelaskan Eko Setiawan, Mahasiswa IKOPIN yang tergabung didalam BEM IKOPIN dan ASOEMSI (Aliansi Solidaritas Mahasiswa IKOPIN) melakukan aksi di depan gedung DPRD Provinsi Jawa Barat bersama BEM SI Wilayah Jawa Barat.

Baca Juga  PWI Kecam Kekerasan Terhadap Pers, Ini Pelanggaran Serius

Aksi dimulai sekitar pada pukul 13.00 WIB dengan melakukan long march dari kampus UNISBA Jalan Tamansari hingga ke gedung DPRD Provinsi Jawa Barat. Pada pukul 15.00 WIB massa aksi tiba di depan gedung DPRD dan melakukan orasi higga pukul 16.00 WIB.

Baca Juga  Puluhan Jurnalis Berbagai Organisasi Protes Tindakan Represif Kepolisian

Pada pukul 16.30 kondisi mulai tidak kondusif karena aparat kepolisian membubarkan massa dengan menggunakan gas air mata. Sebagian mahasiswa IKOPIN bersama Poltekkes Bandung menjadi tim medis pada aksi tersebut, sehingga menuju titik evakuasi di RM. Ampera Jl. Trunojoyo.

Komentar

Realita Terbaru