oleh

Amrullah Seorang Guru SMA, Dirikan Rumah Tahfidz Alquran di Tengah Pandemi Covid-19

RajaBackLink.com

LAMPUNG,- Masa pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak awal tahun 2020, berdampak terhadap aktifitas pendidikan di sekolah dan digantikan dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Hal itu membuat produktifitas interaksi pengajaran secara tatap muka antara guru dan murid menjadi berkurang.

Namun, kondisi ini ternyata tidak lantas membuat Amrullah, S.Pd., seorang guru SMA 15 Bandar Lampung mengurangi rutinitasnya dalam mengajarkan ilmu dan pendidikan.

Dengan mendirikan Rumah Tahfiz Al-Qur’an Nurullah. Di ruangan sekira 5×6 Meter, dirinya mengajarkan 26 anak-anak tingkat Sekolah Dasar (SD) yang ada di lingkungan setempat. Tepatnya di wilayah Kelurahan Kaliawi, Kecamatan Tanjung Karang Pusat.

Target didirikannya rumah tahfidz, kata Amrullah, supaya anak-anak mampu menghafalkan Al-Qur’an minimal 3 Juz selama 3 Tahun. Selain menghafal Al Qur’an, anak-anak (santri) akan diberikan ilmu kesenian Hadroh yang merupakan kesenian rebana yang mengakar di dalam kebudayaan islam disebut sebagai kegiatan syiar melalui syair.

“Sebenarnya niatan mendirikan rumah tahfidz ini sudah sejak lima tahun, bahkan sejak sepuluh tahun yang lalu. Baru teraplikasi di tempat ini, karena sikon juga masa pandemi covid 19 ini. Sekarang (rumah tahfidz) baru masuk bulan ke dua,” jelas Abi, panggilan akrab Amrullah.

Dirinya juga menjelaskan, anak-anak yang menimba ilmu tahfidz Al-Qur’an sementara ini tidak tinggal di rumah tahfidz. Karena mereka (santri) masih mengenyam pendidikan di sekolah umum.

“Anak-anak ini tidak menginap, karena semuanya masih di sekolah umum. Ini sedikit berbeda dengan rumah-rumah tahfidz yang lain yang biasanya tinggal di rumah tahfidz dan tidak belajar di sekolah umum,” ungkapnya.

Alasan dirinya menyasar para santri atau anak yang berasal dari lingkungan sekolah umum, karena 15 atau 30 tahun mendatang dirinya masih menganalisa bahwa pemimpin-pemimpin di negeri ini mayoritas masih berasal dari sekolah-sekolah umum.

“Mungkin ada, tapi masih bisa dihitung dengan jari yang background nya pondok (pesantren) menjadi penguasa atau pemimpin, salahsatunya pernah di Nusa Tenggara Barat. Itu artinya 90 persen berasal dari orang-orang (sekolah) umum,” tuturnya.

“Saya berpikir nya begini, kalo orang-orang umum itu jadi raja atau pemimpin tanpa dibekali ilmu agama bagaimana nasib negara kita ini,” ungkapnya.

Untuk itu dirinya memilih anak yang bersekolah umum menjadi target pengajaran ilmu ilmu dasar agama serta tahfidz Al-Qur’an. “Mereka tetap di rumah tahfidz tapi mereka bisa tetap sekolah di sekolahnya masing-masing,” ujarnya.

“Jadi siapa tau dari anak-anak yang belajar ini, esok atau lusa menjadi pemimpin. Setidak tidaknya kita sudah ikhtiar memberikan polesan kepada mereka, sudah dibekali pendidikan dan ilmu agama,” harapnya.

Menurutnya, bagi anak yang bisa menghafal 3 Juz dalam waktu 3 Tahun itu suatu yang luar biasa. Karena latar belakang mereka berasal dari sekolah umum, bukan pondok pesantren.

Selama dua bulan berjalan mendirikan Rumah Tahfidz Al-Qur’an, Abi panggilan para santri kepadanya, mengaku bahwa untuk membiayai rumah tahfidz Al-Qur’an tidak menemui banyak kendala. Karena dirinya meyakini apa yang kita lakukan akan seperti yang kita cita-cita kan.

“Prinsipnya ada apa, apa yang bisa saya kerjakan, saya kerjakan. Alhamdulillah, ada ini saya lakukan, insya Allah yang kita lakukan akan kita dapat seperti apa yang kita cita cita kan, saya yakin itu,” ujar Abi.

Dirinya juga mengaku apa adanya membuka bagi pihak-pihak yang ingin menjadi orangtua asuh anak didik atau santri yang ada di Rumah Tahfidz Al-Qur’an Nurullah.

“Alhamdulillah sudah ada beberapa orangtua asuh, mendonasikan ke rumah tahfidz Nurullah. Di awal-awal donasi banyak dipergunakan untuk tempat dan fasilitas mengajar,” katanya.

26 Santri yang belajar di Rumah Tahfidz Al-Qur’an Nurullah saat ini merupakan anak-anak yang berasal dari lingkungan setempat dan sebagian besar dalam kategori Dhuafa. “Kita tidak pungut bayaran, bahkan melarang seperak pun jangan. Namun bagi yang ingin menjadi orangtua asuh santri kita terima,” ucap Abi.

Abi Amrullah menambahkan, ini merupakan rumah tahfidz yang ke dua. Yang pertama, katanya, ada di Tanjungseneng-Bandarlampung. “Di sana khusus anak (tingkat) SMA. Karena sehari-hari kan saya guru SMA. Saya memilih titik di sana karena mendekati sekolah, kita yang jemput bola, jadi mereka ke rumah tahfidz tidak perlu pakai ongkos,” jelasnya.

Dikatakan Abi, mulanya mendirikan rumah tahfidz ini hanya untuk menerima santri sebanyak 20 orang dengan memprioritaskan anak yatim dan dhuafa yang tinggal di sekitar lingkungan Kelurahan Kaliawi. Syaratnya, santri yang mendaftar harus diantara kelas 4 SD hingga kelas 9 (3 SMP). “Namun karena animo masyarakat dan anak yang ingin belajar di rumah tahfidz ini, akhirnya kita hanya bisa menerima batas maksimal yaitu 26 orang santri saja,” ungkapnya.

Semoga tujuan didirikannya Rumah Tahfidz Al-Qur’an Nurullah memberikan manfaat dan ilmu agama bagi para santri, khususnya dalam memperdalam ilmu membaca Al-Qur’an. Sesuai dengan motto, Dengan Ilmu Hidup Jadi Lebih Mudah, Dengan Iman Hidup Jadi Lebih Terarah, Dengan Seni Hidup Jadi Lebih Indah.

Bagi yang berminat ingin menjadi Orangtua Asuh Santri di Rumah Tahfidz Al-Qur’an Nurullah, dapat menghubungi Kontak Person di Nomor 0812-7931-206.

Komentar

Realita Terbaru