oleh

Ketua Yayasan Widyatama Puji Prof Obi, Ini Alasannya

BANDUNG, realitapublik.com,— Ketua Yayasan Widyatama Djoko Roespinoedji, S.E, PG. DIP menyebut Universitas Widyatama banyak mendapatkan predikat dan penghargaan setelah kedatangan Prof H. Obsatar Sinaga, M.Si menjadi Rektor Widyatama.

Pujian itu diungkapkan generasi ketiga pemilik Yayasan Widyatama seusai Coffe Morning bersama awak media, di Gedung Seminar Universitas Widyatama, Kota Bandung, Selasa (23/02/2021).

Alasan dirinya memuji Prof Obi, -panggilan akrabnya-, karena telah mampu meningkatkan prestasi dan peringkat universitas Widyatama. Untuk tahun 2020, Universitas Widyatama (UTama) memperoleh peringkat ke 57 (tingkat nasional) menurut Kemenristek Dikti. Dan posisi 55 di Webometrics, untuk tahun 2021 (tahun sebelumnya menempati urutan 91).

Dikatakan Djoko, memasuki 2 tahun kepemimpinan Prof Obi menjadi Rektor Universitas Widyatama. “Beliau juga saya anggap sebagai kakak saya sendiri, saudara saya sendiri. Dan kita punya cita-cita yang sama, dalam arti kata ingin memajukan pendidikan. Di widyatama khususnya, dan Indonesia secara umumnya,” ungkapnya.

Peningkatan peringkat dinilai dari beberapa peningkatan indikator. Pencapaian tersebut, kata Djoko, berkat kesamaan visi dan misi Yayasan yang telah diterapkan Rektor Obi.

Baca Juga  Jelang Hari Raya Idul Fitri 1442 H/2021, Yayasan Widyatama Bagikan 750 Lebih Paket Sembako

Salahsatu yang paling menonjol, kata Djoko, Prof Obi sangat konsen terhadap penelitian dan publikasi, serta pengabdian masyarakat. Penelitian dan publikasi menjadi tolak ukur bagi perguruan tinggi.

“Karena artinya, semua dosen itu sebagai tenaga pendidik bukan hanya mengajar atau men-delivery ilmu kepada masyarakat (mahasiswa). Tapi harus juga melakukan penelitian yang sudah dipublikasikan,” ujar Djoko.

“Karena penelitian yang telah dipublikasikan itu adalah dari refleksi dari seorang pendidik bahwa mereka mencoba mengaplikasikan teori yang ada (menyesuaikan) dengan kondisi yang berkembang di dunia saat ini,” imbuhnya.

Selama 3 Tahun ini, lanjutnya, kita sudah mempublikasikan lebih dari 1.300 jurnal internasional. Yang ter-index Scopus. “Dan ini merupakan standar atau rating yang standar di dunia. Artinya apa, index Scopus ini menjadi tolok ukur bagi dosen dalam melakukan pengembangan-pengembangan dan penelitian yang sudah dipublikasikan,” tuturnya.

Baca Juga  Jelang Hari Raya Idul Fitri 1442 H/2021, Yayasan Widyatama Bagikan 750 Lebih Paket Sembako

Beruntung bagi Widyatama memiliki Rektor Prof Obi, pasalnya untuk melakukan penyusunan Jurnal Internasional. Prof Obi memiliki network (jaringan) untuk penelitian dan publikasi jurnal internasional. Memiliki hubungan personal dengan Chief Editor di Eropa dan Amerika Serikat.

Dengan peningkatan penyusunan penelitian dan publikasi jurnal internasional, serta diberlakukannya pilihan penyusunan publikasi Jurnal Internasional bagi mahasiswa akhir semester, memiliki double impact (dua dampak) yang positif. Yakni meningkatkan reputasi lembaga (Widyatama), dan kelulusan mahasiswa.

“Semakin banyak dosen yang berkontribusi terhadap penelitian dan publikasi, tentu membawa lembaga ini secara utuh bahwa dosen-dosen di sini punya intelektual yang baik dan tercatat (skala internasional),” ujarnya.

Penelitian dan publikasi, lanjut Djoko, menjadi salahsatu syarat dan tolok ukur bagi dosen untuk naik atau jabatan fungsional akademik. “Jadi dosen itu kan jenjang jabatan fungsional, mulai dari asisten ahli, kemudian naik ke Lektor, lalu ke Lektor Kepala, dan Guru Besar. Penelitian dan publikasi menjadi salahsatu persyaratan utama untuk mereka (dosen) naik ke jenjang-jenjang (jabatan) tersebut,” pungkasnya.

Baca Juga  Jelang Hari Raya Idul Fitri 1442 H/2021, Yayasan Widyatama Bagikan 750 Lebih Paket Sembako

Sementara, Rektor Universitas Widyatama (UTama) Prof H. Obsatar Sinaga, M.Si menyebut diberlakukannya penyusunan penelitian dan publikasi jurnal internasional sebagai syarat kelulusan mahasiswa, tanpa atau selain menyusun skripsi. Dapat memangkas waktu.

Dirinya menyebut, untuk melakukan penyusunan skripsi dibutuhkan lebih dari 4 bulan bahkan bisa lebih dari satu semester, karena harus bertemu dengan dosen sebanyak minimal 4 kali pertemuan. “Dengan jurnal internasional bisa selesai dalam 2 bulan,” ungkapnya.

Prof Obi juga mengungkapkan, dengan menyertakan jurnal internasional saat ingin bekerja, akan memberikan nilai tambah. Dan lulusan yang telah menyusun jurnal internasional dianggap kredibel.

Bagi mahasiswa yang memilih menyusun jurnal internasional sebagai syarat kelulusan untuk tidak perlu khawatir jika jurnal yang telah disusun tidak terpublikasi. Karena Widyatama, khususnya Rektor akan menjamin secara personal.

Universitas Widyatama tetap memberikan pilihan persyaratan kelulusan dengan menyusun skripsi dan penyusunan jurnal internasional. (Cuy)

Komentar

Realita Terbaru