oleh

Pencabulan Guru Terhadap Murid di Pangalengan, TAPAK Akan Kawal Proses Hukum Perkara Sampai Tuntas

BANDUNG, realitapublik.com,— Kasus pencabulan yang menimpa 3 orang siswi sekolah menengah yang dilakukan oleh oknum guru di Pangalengan yang terjadi pada pertengahan tahun 2020 lalu. Rupanya menggugah perhatian masyarakat dan menyayangkan kasus asusila tersebut malah terjadi di lingkungan pendidikan.

Atas peristiwa ini, kelompok masyarakat Pangalengan yang menamakan diri sebagai Tim Advokasi Pejuang Kemanusiaan dan Keadilan atau biasa disebut TAPAK, akan terus mengawal proses hukum yang berjalan kasus pencabulan ini hingga tuntas.

Hal itu ditegaskan Agung, mewakili Tim Advokasi Pejuang Kemanusiaan dan Keadilan (TAPAK), melalui sambungan seluler-nya, Kamis (09/04/2021). Dirinya menuturkan, tim ini muncul setelah terjadi kasus ini.

“Kebetulan TAPAK ini memang terbentuk setelah adanya kasus ini. Jadi masyarakat Pangalengan tergerak hati nya untuk membuat suatu organisasi (tim) yang mendukung dan mendampingi pihak keluarga korban dari kasus ini,” tuturnya.

Baca Juga  Kasus Pencabulan Oknum Guru Terhadap Murid, Kuasa Hukum Kecewa Penahanan Tersangka Ditangguhkan

Dikatakan Agung, orang-orang yang tergabung dan peduli kepada korban di kasus ini merupakan tokoh-tokoh masyarakat Pangalengan. “Dan ini menjadi momen yang tepat untuk membentuk suatu organisasi,” katanya.

Dalam mengawal kasus ini, TAPAK memastikan jika korban dan keluarga nya harus merasa aman. Alasan ini diambil berdasarkan karena terdakwa merupakan salah satu tokoh atau orang yang berpengaruh di Pangalengan.

“Apa yang bisa kami lakukan akan kami lakukan. Sementara ini yang kita lakukan adalah memberikan keamanan, rasa aman dan nyaman khususnya bagi korban,” ungkapnya.

Baca Juga  Penasehat Hukum Korban Pencabulan di Pangalengan, Negara dan Masyarakat Hadir Mengawal Proses Hukum

“Karena yang menjadi terdakwa atau tersangka adalah seorang tokoh besar di Pangalengan. Jadi dikhawatirkan adanya gangguan secara psikis terhadap korban atau keluarga korban,” imbuhnya.

Apalagi, lanjut Agung, yang menjadi korban ini kan para santriwati atau siswa sekolah sebagai penerus masa depan. Dirinya juga khawatir atas perbuatan tersangka, berdampak kepada para tokoh-tokoh agama.

“Dikhawatirkan nantinya dampaknya ketidakpercayaan (masyarakat) kepada para tokoh-tokoh agama kalau kita tidak mendampingi (kasus ini) secara langsung,” ujarnya.

Dengan adanya kasus ini, dirinya menilai, banyak kekhawatiran masyarakat akan terjadinya hal yang serupa. Untuk itu, setelah kasus atau perkara ini selesai. Kedepan, TAPAK akan melakukan advokasi hukum terhadap masyarakat yang menjadi korban kriminalitas dan pidana lainnya. Mengingat, selama ini sebagian mayarakat yang menjadi korban dari perbuatan pidana tak jarang masih enggan melakukan proses hukum.

Baca Juga  Penasehat Hukum Korban Pencabulan di Pangalengan, Negara dan Masyarakat Hadir Mengawal Proses Hukum

“Mengambil dari pengalaman-pengalaman kemarin, kita memerlukan proses yang lama dan memerlukan biaya akomodasi, transportasi dan lain-lain. Kedepannya, jikalau ada korban terjadi hal seperti ini, misalkan ada korban yang tidak mampu, insya Allah akan kita dampingi dan bantu,” lugasnya.

“Terkadang ada orang yang enggan melaporkan (ke polisi), padahal itu dia membela hak nya. Kita juga kan memberikan gambaran dan edukasi ke masyarakat khususnya terkait masalah hukum,” pungkasnya. (Cuy)

Komentar