oleh

Kolektor Karya Seni Umar Sumarta dan Keinginannya Membangun Museum

BANDUNG, realitapublik.com,—Djen Himawan (61) yang akrab disapa Koko Odjen, sosok pecinta dan kolektor seni rupa karya perupa maestro Umar Sumarta. Hal itu nampak dari berbagai koleksi karya sang maestro dengan sebutan ‘Mystic Artist of the Sundanese Lands’ ini, di kediamannya yang berlokasi di wilayah Bandung utara, tepatnya di Jalan Islamic Center No. 6, Cimenyan Kabupaten Bandung.

Bahkan, dirinya menyebut rumah nya sebagai galeri karya Umar Sumarta. Karena terdapat ratusan hasil karya sang maestro seni rupa berhasil Ia koleksi dan dikumpulkan di kediaman nya.

“Boleh lah, rumah saya disebut galeri kecil-kecilan dan tak formal, sejak lama saya simpan karya Pak Umar Sumarta. Tentu ini,  galeri yang terbatas.  Biasa rekan-rekan, sering hadir menikmati koleksi saya. Kebetulan, karya Pak Umar semua pula,” ujar Koko Djen sambil menunjukkan satu dari ratusan koleksi kesayangannya berjudul Kiss karya era 1980 (200 Cm  X 42 Cm, oil on canvas).

“Entah kenapa, saya kalau menatap lukisan ini, hati itu terasa tenang. Subyektif kalau saya ceritakan tentang lukisan ini. Intinya, dari pertemuan antar manusia dua sejoli ini, lahirlah anak dan cucu, lalu muncullah daur kehidupan yang penuh dengan romantika dan suka duka yang khas,” ungkapnya.

“Lukisan Pak umar inilah tergambar hal yang sangat mendalam penuh makna, ini  menarik. Ini memotivasi kita untuk terus hidup bersama Sang Pencipta, lebih berkualitas dan bermanfaat bagi sesama, juga lingkungan,” terang Koko Djen. 

Diakui oleh Koko Djen yang sejak lama menggeluti bisnis berlian dan batu mulia, perkenalannya dengan perupa maestro Umar Sumarta seperti misterius, namun berlangsung secara alamiah dan mencair apa adanya, serta sangatlah menyenangkan.

“Seperti sudah berjodoh dengan keluarga Pak Umar, begitu juga katanya Pak Umar sendiri. Namun, masing-masing punya lingkar hidup tersendiri. Kami tak pernah saling interfensi,” tutur Koko Djen.

“Saya tentu tak bisa, dan tak pernah memesan lukisan kepada Pak Umar dengan warna, dan goresan seperti ini, dan itu misalnya, itu tak pernah. Pak Umar pun dalam melukis, sesuai kata hatinya sendiri saja. Saya ini kan, mengapresiasi semua karyanya.”

Koko Djen tatkala ditanya suka duka selama berkontak-ria dengan maestro Umar Sumarta yang karyanya sejak era 1980-an sudah dikoleksi oleh puluhan kolektor ternama di dalam dan luar negeri terutama di Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah, juga Singapura, dan Malaysia, tak sungkan ia mengemukakan hal yang lucu.

Masih tersimpan dalam ingatannya, Pak Umar itu kalau sehabis berkarya tentu saya amati benar karyanya, dan terkadang menawar harganya. Anehnya, kata Koko Djen, ia akan balik bertanya.

“Kalau Anda berminat?, Harus dengar dulu cerita lukisan ini ya?,” kata Umar Sumarta yang diceritakan Koko Djen.

“Tentu saja saya sangat tertarik akan cerita di balik karyanya. Justru cerita seperti itu yang menarik untuk mengkoleksinya. Selain goresan dan saupun warna, rata-rata kisahnya seputar pesta rakyat, kritik sosial, hal mistis, keunikan kehidupan tempo dulu di desanya (Rancakalong Sumedang – red.), kegalauan dan dinamika hidup, serta seribu satu hal menarik lannya,” ujar Koko Djen.

Museum Umar Sumarta   

Karena dianggap memiliki arti dan nilai filosofi sosial dalam setiap karya seni sang Maestro, dirinya pun secara terang-terangan memiliki impian dan berencana membangun museum lukisan Umar Sumarta.

Hal itu pernah diungkapkannya saat dirinya dan sang Maestro Umar Sumarta bertemu dengan pegiat lingkungan dan budaya masyarakat adat Sunda Eka Santosa, pada bulan lalu (27/6/2021) di Kawasan Eko Wisata dan Budaya Alam Santosa di Desa Cikadut, Kecmatan Cimenyan Kabupaten Bandung.

“Ya, ada benarnya itu kami bertiga kala itu berencana membuka atau membangun museum lukisan Umar Sumarta di destinasi wisata pantai Pangandaran. Teknisnya, sedang kami bahas termasuk kemungkinan menghubungi mantan menteri KKP Ibu Susi Pudjiastuti, dan Pak Jeje Bupati Pangagandaran, serta tokoh-tokoh setempat lainnya. Terakhir kata Kang Eka Santosa, ada lampu hijau katanya,” jelas Koko Odjen.   

Rencananya, museum perupa maestro Umar Sumarta ini didirikan di Pangandaran. Dipilihnya Pangandaran, menurut Koko Odjen, ini mengurut pada keinginan Pak Umar yang memang sangat menyenangi hiruk-pikuk kehidupan di pedesaan dan pantai serta dunia nelayan. Dijelaskan lebih lanjut, dunia mistis Nyi Roro kidul, yang sudah melegenda sering dijadikan sebagai sumber inspirasi maupun latar karya dari Pak Umar

“Yang jelas sudah cukup lama keinginan Pak Umar untuk mendirikan museum di Pangandaran ini. Dengar – dengar para kolektor lain pun dari Pak umar, baik yang ada di dalam maupun di luar negeri sudah mulai mengeluarkan dukungannya,” papar Koko Odjen sekaligus memohon doa dan dorongan untuk terwujudnya gagasan ini. (Cuy/HS)

Komentar

Realita Terbaru